PDIP Pasti Usung Gibran Sebagai Calon Walikota Solo

 Alifurrahman . a day ago . 4 min read .  5.8k
PDIP Pasti Usung Gibran Sebagai Calon Walikota Solo
Salah seorang teman di Solo bertanya, kira-kira gimana peluang Gibran untuk maju sebagai Calon Walikota? Maksudnya peluang dicalonkan oleh PDI Perjuangan, partai tempat Gibran bernaung.
Sebelum menjawab, tentu saja saya tanya balik. Gimana pontensi Gibran untuk menang? Dan jawabannya, hanya rakyat Solo yang paham tentang kebutuhannya dan kenapa sampai mendesak Gibran untuk maju sebagai Calon Walikota. Maksud teman saya ini, orang Solo punya banyak alasan logis dan jelas, dan itu tak perlu diperdebatkan orang dari wilayah lain.
Sehingga kalau kita berpikir Gibran seharusnya maju setelah ayahnya selesai menjabat sebagai Presiden, atau anggapan menang biasa dan kalah malu, dan sebagainya, perdebatan semacam itu harus kita tutup rapat-rapat. Karena masyarakat Solo menginginkan Gibran.
Secara elektabilitas, Gibran mengungguli Wakil Walikota saat ini dan berniat maju di Pilkada 2020, 90 persen. Dari sisi akseptabilitas, Gibran persentasenya 61 persen. Memang masih kalah dengan Purnomo dengan 83 persen. Dan dari elektabilitas, Purnomo 38 persen sementara Gibran 13 persen.
Angka-angka ini tentu sangat penting bagi partai. Gibran yang belum berkiprah di politik, nyatanya punya kans keterpilihan, tak jauh dari Wakil Walikota Solo sekarang atau orang yang menjadi lawan politiknya. Publik mengenal Gibran dan menilainya sebagai sosok yang positif atau dapat diterima masyarakat Solo.
Lalu bagaimana peluangnya untuk maju lewat PDIP?
Keputusan nama calon dalam Pilkada 2020 ditentukan oleh DPP. Tapi prosesnya, DPP menerima usulan nama dari DPC. Sementara DPC Solo mendapat usulan dari PAC. Dan usulan mereka adalah Purnomo-Teguh.
Meski begitu, pada akhirnya DPP yang akan mengambil keputusan. Karena ini menyangkut kepentingan nasional serta kepentingan partai jangka panjang. Ini sama seperti usulan menteri, relawan, partai dan ormas boleh mengajukan atau merekomendasikan, tapi pada akhirnya Presidenlah yang menentukan. Dalam hal calon Walikota, DPP punya kuasa penuh untuk menentukan.
Berkaca pada Pemilu 2019, sebagai orang yang sering diajak diskusi oleh banyak kalangan, saya menilai ada satu permasalahan serius di partai-partai besar atau partai lama. Yakni kurangnya sosok anak muda sebagai kader mereka. Sehingga tak heran mereka mengambil jalan pintas, mengambil sosok anak-anak muda yang sudah dikenal oleh publik. Maka tak heran pilihan partai-partai adalah artis-artis. Selain karena enak dipandang, juga karena sudah dikenal masyarakat luas. Tinggal dibekali dengan sekolah kebangsaan, maka nama-nama tersebut siap ditawarkan ke publik.
Pemilu 2019 ini berbeda dari 2014. Memang sama-sama mengandalkan artis, tapi kali ini lebih menyasar artis-artis muda, sebagai tanda bahwa partai-partai ini sangat butuh figur anak-anak muda.
Jika berkaca pada kebutuhan partai politik, maka jelas PDIP harus memanfaatkan Gibran sebaik-baiknya. Anak ini jauh lebih terkenal dari semua artis-artis muda yang dimiliki oleh partai. Popularitasnya 90 persen di Solo, rasanya tak ada artis yang mampu melampaui angka tersebut.
Selain itu, pengalaman, lingkungan politik dan pendidikan keluarga, jelas menunjukkan bahwa Gibran ini akan mampu menjadi figur penting di partai. PDIP sebagai partai yang sejauh ini menjunjung tinggi latar belakang seseorang, jelas tak akan punya banyak alasan untuk menolak Gibran. Seperti halnya PDIP yang yakin betul dengan barokah trah Soekarno. Yang mampu mempersatukan semua elemen dan kini menjadi partai paling solid dalam lintas zaman.
Sederhananya, Gibran bisa menjadi jawaban atas kebutuhan partai, serta memiliki kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki oleh kalangan artis.
Mungkin sedikit masalah yang akan dihadapi oleh internal partai adalah soal Purnomo. Wakil walikota Solo yang juga kader PDIP ini tidak bisa disingkirkan begitu saja. Purnomo harus punya posisi.
Tapi dalam sejarahnya PDIP sudah punya resep jitu soal ini. dulu ketika Jokowi maju sebagai Calon Walikota, FX Rudi sebagai kader yang lebih senior bersedia jadi wakil karena merasa sulit diterima oleh masyarakat atas alasan agama. JK, pada Pilpres 2014 bersedia menjadi Wakil Presiden meski lebih senior dari Jokowi. Maka seharusnya Purnomo juga bisa dipasang sebagai Wakil Walikota menemani Gibran.
Dengan begitu, internal partai akan tetap solid. Teguh bisa menggerakkan mesin partai di Solo, Purnomo mendukung jaringan pemilihnya. Sementara Gibran diharapkan dapat memberikan terobosan-terobosan baru demi kemajuan Solo, jauh lebih baik dari yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Begitulah kura-kura.

Komentar